Followers

Saturday, December 18, 2010

surat cinta seorang pemuda

tertarik dengan entri yang di post oleh sorang blogger.
entri ni daripada blog al-farisi

surat daripada seorang pemuda yang ingin diberikan kepada Hasan al-banna.

Pernahkah kalian dengar tentang surat yang ditulis oleh seorang  ahli ikhwanul muslimin kepada imam Hasan Al-Banna??
lelaki ini merasa sedih dengan keadaan hatinya yang terpisah antara kewajipan dan realiti,antara akal dan hati,dan antara ilmu dengan amalnya.Lalu dia menanyakan kepada Imam Hasan Al-Banna tentang penawar kepada masalah ini.Terlebih dahulu dia menerangkan keadaan hatinya.Pemuda ini telah mengirim surat ini berpuluh-puluh tahun yang lalu,tetapi ia seakan-akan memaparkan keadaan hati saya dan hati orang lain kebanyakannya.

Suratnya berbunyi begini....

Assalamualaikum warahmatullahi  wabarakatuh,
     Apakah anda pernah mendengar tentang lelaki tanpa hati? Maaf jika hati yang dimaksudkan adalah salah satu anggota tubuh dari daging yang bewarna merah,yang manarik dan melepaskan darahnya,tentu sahaja lelaki itu memilikinya. Yang dengannya dia dapat hidup dan menjalani kehidupannya.Akan tetapi hati yang bersemangat,kuat dan hidup,sayang sekali dia tidak memilikinya.
    Dia mengetahui kebaikan meskipun kecil,dia juga mengetahui tempat-tempat keburukan meskipun samar-samar.
Seringkali dia merasa benar jika membaca perilaku seseorang dari wajahnya dan dia juga dapat memberi isyarat akan hal itu. Akan tetapi,dia tidak memiliki hati.Jika bertemu dengan teman lamanya yang sudah tidak bersua,dia menyalaminya dangan menggemgam tanagannya dengan kuat,bahkan memeluknya.Namun hatinya tetap beku,sama sekali tidak terpengaruh.Dia memberi nasihat kepada orang lain, "Jadilah kalian begini dan jadilah kalian begitu", serta menyebutkan pelbagai dalil dan alasan, namun hatinya semakin keras dan tidak terpengaruh.
     Dia tersenyum kala menerima berita gembira.Dia juga mengerutkan dahi saat menerima berita duka.Akan tetapi,kegembiraannya dan kesedihannya hanyalah reaksi yang dialami.sedangkan hatinya tetap diam dan tidak bergoncang.
     Dia menyatakan cinta dan benci kapda seseorang.Ketika melihat hatinya,hatinya tetap diam tanpa memberi penjelasan.
     Dia berdiri menunaikan solat dan berusaha khusyuk,membaca Al-Quran dan berusaha menumpukan perhatiannya.Ketika menunaikan solat,membaca bacaan solat dengan nada-nadanya,orang-orang pun berkata, "Dia jenis orang yang khusyuk".Akan tetapi ketika meraba hatinya, dia mendapati hatinya kaku dan  tidak khusyuk,walaupun memahami apa yang dibaca.
     Ini adalah gambaran yang sebenarnya terjadi pada hati lelaki tersebut.Saya tidak melebu melebih-lebihkan atau menguranginya.Menurut anda ,apakah anda dapat menyatakan bahawa hatinya sama seperti hati orang-orang pada umumnya?
    Saya dianugerahi akal,tetapi hati saya hilang.Saya merasakan fikiran saya menyala-nyala,bekerja,hidup dan menunjukkan kedudukannya.Akan tetapi ,ketika saya ingin merasakan hal itu pada hati saya,sama sekali tidak menemukannya.Saat ini ,anda telah mendengar tentang seorang lelaki yang tidak memiliki hati.
     Dia adalah seorang pemuda yang  membai'at anda dan anda mengambil sumpah setia darinya.Adakah anda rela jika seorang tentera anda hidup tanpa hati ?adakah anda dapat membantu menghidupkan hatinya agar tergerak dan merasakan apa yang diucapkan oleh lisannya.
     Ini adalah seorang penyakit tentera anda yang akan membuat anda rasa sedih jika mengetahuinya.Oleh kerana itu,saya akan membuat anda rasa sedih jika mengetahuinya.Oleh kerana itu saya tidak menyebutkan namanya.Hingga saya memberitahu anda kesembuhannya.
  Wassamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hmmm...saya pasti surat ini mewakili hati-hati kebanyakan manusia sekaliannya.Betul?Anda yang membaca bagaimana? Adakah kita merasakan hal yang sama.Surat ini menyedarkan saya bahawa kita sedang mengalami penyakit hati.Penyaki yang mana lebih parah dari kanser atau HIV AIDS.Penyakit ini akan perlahan-perlahan meresapi hati kita saat demi saat,setiap minit dan merebak sepanjang kehidupan kita.

kemudian, Hasan al-Banna membalas surat pemuda ini.

Imam Al-Banna menulis,
Saudaraku.
wa'alaikumussalam warahmatullah hiwabarakatuh.

    Saya telah membaca suratmu dan sangat terpengaruh oleh kejujuran bahasamu, keindahan keberanianmu, lembutnya kesedaranmu, dan hidupnya hatimu.
    Saudaraku ,engkau bukan orang yang hatinya mati seperti yang engkau kira. Akan tetapi, engkau adalah seorang pemuda yang perasaannya tajam,  jiwanya bersih, dan nuraninya lembut. Seandainya tidak bersifat demikian, tentulah engkau tidak menuduh dirimu dan tidak engkau ingkari perasaanmu. Akan tetapi besarnya semangat dan jauhnya tujuan, membuatmu menganggap kecil urusanmu yang besar dan engkau mengharapkan tambahan untuknya. Tidak ada masalah dalam hal itu dan memang itu harus terjadi.
     Saya merasakan apa yang engkau kira , saya berjalan sebagaimana engkau berjalan dan saya akan berusaha untuk mengajukan beberapa nasihat. Jika nasihat-nasihat tersebut bermanfaat bagimu dan dengan melaksanakan engkau lihat dapat menghapuskan dahaga serta mengubati sakitmu, maka alhamdulillah, atas taufikNya. Namun jika tidak demikian, maka saya senang untuk bertemu denganmu agar kita saling bekerja sama untk menganalisis penyakit dan menentukan ubatnya,
     Berteman dengan orang-orang yang khusyuk yang selalu merenung, bergaul dengan orang-orang yang selalu berfikir dan menyendiri, dekat denan orang-orang yang bertaqwa dan soleh yang dari mereka terpancar hikmah dan dari wajah mereka terpancar cahaya, dan hati mereka bertambah dengan makrifat (dan jumlah mereka adalah sedikit) adalah ubat yang mujarab.Berusahalah berteman dengan orang-orang sepreti mereka, selalu bersama mereka, kembali kepada mereka dan engkau sambung rohmu dengan roh mereka, jiwamu dengan jiwa mereka, jiwamu dengan jiwa mereka serta engkau habiskan kebanyakan waktu kosongmu bersama mereka. Hati-hatilah dari orang yang "mengaku-ngaku". Carilah mereka yang perilakunya membuatkanmu bangkit
, perbuatannya membawamu berbuat baik dan jika engkau melihatnya maka engkau teringatkan Allah.
      Berteman dengan orang-orang yang seperti ini adalah salah satu ubat yang paling mujarab, kerana watak manusia sering mencuri, sehingga hati terpengaruh oleh hati dan jiwa pun mengambil dari jiwa. Oleh kerana itu, berusahalah untuk menemukan jiwa-jiwa yang soleh sebagai teman.
     Saudaraku. berfikir, berzikir di waktu-waktu yang bersih, menyendiri, bermunajat, merenungi alam yang indah serta menakjubkan, menggali rahsia keindahan dan keagungan dari alam, meneliti dengan hati dan berzikir dengan lisan dan pengaruh keagungan yang mengagumkan serta hikmah yang agung, ini termasuk hal yang memberi kehidupan kepada hati dan menyinari kalbu dengan keimanan dan keyakinan. 


Allah SWT berfirman,
 "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal"(Ali Imran [3]: 190)


      Saudaraku, selanjutnya berfikir tentang masyarakat, melihat pelbagai penderitaan, kebahgiaan, kesulitan dan kemakmuran, serta menjenguk orang-orang yang sakit, menghiburkan orang-orang yang ditimpa bencana dan mengenali sebab-sebab kesengsaraan yang berupa pembangkangan, kekafiran, kezaliman, pelanggaran, sikap mementingkan diri sendiri, egois, terpedaya dengan hal-hal yang sementara, semua ini merupakan sentuhan bagi dawai-dawai hati yang menyatukan cerai-berainya dan menghidupkan kematian. Maka berusahalah agar keberadaanmu menjadi penghibur bagi orang-orang yang sengsara dan ditimpa bencana. Tidak ada hal yang pengaruhnya lebih kuat terhadap perasaan berbuat baik kepada orang yang sangat-sangat memerlukan , membantu orang-orang yang teraniaya atau berkongsi rasa dengan orang yang susah dan sedih.
       Saudaraku, hati ada di tangan Allah. Dia merubahnya sesuai dengan kehendakNya. Oleh kerana itu, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, agar Dia memberikan kehidupan kepada hatimu, membuka dadamu dengan iman dan melimpahkan keyakinan kepadamu sebagai anugerah serta nikmat dariNya. Berdoalah di waktu-waktu mustajab dan waktu-waktu sahur. Kerana doa di waktu sahur adalah anak panah yang meluncur  yang tidak berhenti hingga sampai ke 'Arasy. Saya tidak meragukan keikhlasanmu dalam mencapai tujuan dan kejujuran dalam pengakuanmu,


Allah SWT berfirman, 
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang bertaqwa" (Al-Maidah [5]:27)


                                                                                                                               saudaramu,
                                                                                                                               Hasan Al-Banna

RUJUKAN
Menjadi Hamba Rabbani, Dr Majdi Al-Hilali

No comments: